5/16/2016

Ayah, by Andrea Hirata

Judul Ayah
Penulis Andrea Hirata
Genre Drama, Fiksi
Jumlah Halaman 396
Bahasa Indonesia
Tahun Terbit 2015
“Segala hal dalam hidup ini terjadi tiga kali, boi. Pertama lahir, kedua hidup, ketiga mati. Pertama lapar, kedua kenyang, ketiga mati. Pertama jahat, kedua baik, ketiga mati. Pertama benci, kedua cinta, ketiga mati. Jangan lupa mati, boi.” 
Membaca "Ayah" terasa seperti sedang menaiki kereta yang berjalan tenang, dengan pemandangan padang rumput hijau terhampar sejauh-jauhnya mata memandang. Enggan rasanya meninggalkan kisah ini setelah tiba di penghujung halaman.

Saya memang tergolong telat dalam membaca karya-karya Andrea Hirata yang sudah terkenal sejak Laskar Pelangi booming di Indonesia dan dunia. This is my first Andrea Hirata reads, and it wont be the last! Alasan saya menunda-nunda untuk membaca karyanya karena saya sudah merasa terintimidasi duluan, haha. Andrea Hirata adalah novelis berbakat, dan kehebatannya sudah diakui di kancah literatur internasional, dan saya khawatir kapasitas pemahaman dan selera saya yang belum terlalu luas tidak bisa cocok dengan gaya kepenulisan beliau yang "Wah".

Tetapi ternyata kekhawatiran itu benar-benar tidak beralasan. Kalimat pertama sudah cukup untuk membuat saya kecantol hingga halaman terakhir. I really enjoyed reading the whole book. Kelihaian Andrea Hirata bercerita membuat proses membaca buku ini sangat ringan. Kalimat-kalimatnya mudah dipahami, transisi alur dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya tidak terasa dipaksakan, tetapi mengalir dengan mulus. 

from Google

Kisahnya dimulai dengan sederhana, tentang Sabari, seorang pemuda SMA yang jatuh cinta, hanya kepada satu satunya, Lena, dan tidak akan pernah berubah kepada yang lain. Juga tentang Lena, seorang gadis SMA yang membenci, hanya kepada satu satunya, Sabari, dan tidak akan pernah berubah kepada yang lain.


Kita dibuat Sabari menggeleng kepala, berdecak, tersenyum, dan tertawa, bahkan keempatnya secara sekaligus terhadap usahanya mencintai Lena, yang tak kunjung terbalaskan. Lugu dan pantang menyerah adalah dua kombinasi menarik pada karakter Sabari, kombinasi ini pula yang menggerakkan cerita hidup Sabari menuju ke peristiwa-peristiwa yang hebat dan luar biasa. Sabari, tanpa ia sendiri sadari--karena terlalu terfokus pada cintanya terhadap Lena, telah mengubah cara pandang orang-orang di sekitarnya menjadi lebih baik. Sabari, adalah pemuda penuh cinta. Sabari adalah pejuang suara hati nuraninya.
“Mencintai seseorang merupakan hal yang fantastis, meskipun orang yang dicintai itu merasa muak.” 
Lena, Marlena, kadang kita dibuat gemas dengan tindakan-tindakannya. Terkadang kita dibuat tak paham dengan jalan pikirannya, tetapi seiring halaman dibalik, kita mengerti. Lena, dengan kesadaran penuh, tahu pasti bahwa ia telah mengubah kehidupan banyak orang lewat kehadirannya dan kepergiannya. Lena adalah pejuang, wanita cerdas yang enggan menggantungkan hidupnya pada lelaki. Lena adalah penjelajah yang tidak akan berhenti mencari.

Mereka berdua, bersama karakter-karakter lainnya, bergantian menunjukkan kepada kita soal hidup dan perjuangannya, soal cinta dan perpisahannya, soal persahabatan dan kesetiaannya, soal keluarga dan pengorbanannya. It will make your heart warm and fuzzy, I promise.

Hal - hal yang saya suka dari Ayah:

1. Cerita sederhana, dengan penyampaian yang memikat. Andrea Hirata is indeed a great story teller. Ia lihai mengkombinasikan momen-momen yang memancing tawa dengan momen-momen serius, terlihat berdampingan dan tidak menginterverensi satu sama lain.

2. Alur mengalir mulus, dimulai dan diakhiri dengan indah. I read this book in one sitting, tahu-tahu sudah sampai ending aja. 

3. Mengekspos kekayaan kata-kata bahasa Indonesia yang belum lazim digunakan. Kita dibuat berdecak kagum dengan cara para karakter berbicara lewat pantun dan puisi. Bahasa Indonesia itu menakjubkan, kawan!

5 out of 5 stars, no doubt.

No comments: