10/28/2012

Not for Written, but for Reached.

Cita-cita itu bukan hanya ditulis tapi diwujudkan!

Itulah salah satu quote dari film yang akhir akhir ini menjadi bahan pembicaraan banyak orang, Cita Citaku Setinggi Tanah. Mengambil setting di wilayah Muntilan, Jateng.. film yang satu ini menawarkan cerita sederhana nan manis juga pemandangan yang memanjakan mata.

Bercerita tentang siswa kelas 4 SD, Agus, Jono, Puji dan Sri yang bersahabat sejak lama. Ketika guru mereka memberi tugas essay soal cita cita, dengan semangat dan antusias, selugu dan sepolos anak anak mereka berseru soal impian mereka.

Jono, ingin menjadi seorang tentara. Tak heran sikapnya bak perwira TNI, suka menyuruh nyuruh, bermain tembak tembakan dan menjadi ketua kelas sejak 1 SD hingga sekarang.

Puji, disini memiliki cita cita yang sangat teramat mulia : membahagiakan orang lain. Walau pada penerapannya, bocah ini jauh lebih sering berandai andai membahagiakan orang lain, bukan benar benar membantu banyak orang dan membuat orang senang.

Sri, sangat terobsesi menjadi artis terkenal. Sikapnya 11-12 dengan artis artis papan atas. Dirumah ia sering berlatih melambai, berjalan, berbicara, dan akting bersama Ibunya yang juga benar benar ingin anaknya menjadi bintang.

Last..not least, Agus.
Dan ia bercita cita makan direstoran padang.
Ya readers, makan di restoran padang.

AWALNYA, saya agak underestimate dengan ide cerita ini. AWALNYA. Tetapi setelah beranjak menuju tengah cerita, saya mulai mengerti apa pesan film ini yang sebenarnya.

Cita Citaku Setinggi Tanah. Bukan Setinggi Langit seperti yang sering kita dengar dan sudah menjadi petuah yang turun temurun.

Karena.. bukan seberapa besar kecil, tinggi rendah, mudah rumitnya suatu cita cita kita itu.. tetapi seberapa banyak dan besar usaha yang kita lakukan, keringat yang bercucur, pengorbanan yang kita lakukanlah yang terpenting.


Terlihat dari seberapa besarnya perjuangan Agus ini untuk bisa makan direstoran padang. Menabung habis habisan, bekerja sana sini, sampai uang hasil jerih payahnya kecemplung ke sumur belakang rumah.
Rejeki tidak pernah pergi, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.
In the end, ini adalah film yang hangat untuk ditonton bersama keluarga dan anak anak belia yang masih antusias dengan cita cita. Simple yet inspiring. Dan nilai plus dari menonton film ini selain pesan yang menginspirasi adalah.. anda ikut menyumbang untuk penderita kanker di indonesia sebanyak harga tiket yang anda beli. Ya 100% pendapatan film ini didedikasikan untuk anak anak yang bergulat dengan kanker.

So, daripada nonton film indonesia yang isinya kebanyak horror gak mutu, lebih baik anda memilih menonton ini saja karena selain mendapat hiburan berarti, anda juga menjadi penyelamat jiwa jiwa anak yang terjangkit kanker :))

No comments: